Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 April 2013

Sekedar Kabar Waktu;


09.34 am

Sebuah percakapan yang memang harus aku hadapi keberadaannya. 
Sore itu, aku menghela napas panjang selama berada di dalam angkutan umum. Mengistirahatkan pikiran dan ragaku yang letih karena terus menerus mendorongku untuk memaksa merajut cita. Aku menenggelamkan pandanganku sesaat dan kembali melirik orang-orang yang berada di depanku: beberapa orang temanku dan orang tua. Aku bercakap tentang hal yang tak begitu penting, obrolan biasa yang sering kami ucapkan sebagai sahabat. Kadang aku tak mengerti apa yang aku tertawakan, sehingga hatiku melayang tidak di sana, tidak bersama orang-orang di sekelilingku, tidak di dalam angkutan umum itu. Beberapa menit kemudian, aku tidak menyadari bahwa angkutan umum yang aku tumpangi ini begitu cepat mengantarku pulang ke rumah. Aku berpamitan dengan teman-temanku dan melangkah untuk pulang. Aku tidak sendiri, aku ditemani seorang perempuan manis yang dua tahun lebih tua dariku. Dia adalah kakak kelasku. Canggung. Kami tidak saling bertegur sapa, hanya segaris senyum yang menghangatkan keberadaan kami. Hingga pada akhirnya, aku mencoba untuk mengajak mengobrol. Seperti ini..

Aku: "Teh, sewaktu SMP sekolah di Gunungguruh 2?" aku menanyakan itu karena, wajahnya pernah aku lihat sewaktu aku masih SMP dulu. Aku berpikir, mungkin dia kakak kelasku juga waktu itu.

Tetehnya: "Bukan, teteh sekolah di Yasti." jawabnya ramah. Memang, teteh ini sangat ramah kepada setiap orang. Aku tahu karena, aku melihat caranya bersosialisasi di sekolah, di SMAN 1 Cisaat. Dimana aku menduduki bangku pertamaku sekarang.

Aku: "Oh maap teh, dikira sekolah di Gunungguruh 2.. (nyengir). . soalnya waktu SMP aku sekolah di sana dan pernah ngeliat kakak kelasku yang mirip banget sama teteh. Jadi, aku kira teteh sekolah di sana."

Tetehnya: "Hehe iya ga apa-apa kok. Oh, kamu sekolah di sana."

Aku: "Iya, teh."

Hening. Hanya angin sepoi yang melanjutkan obrolan kami. Kami berjalan memasuki gang, yang memang rumah kami bertuju satu arah. Tapi, beberapa saat kemudian..

Tetehnya: "Minggu depan libur ya.. aciee"

Aku: "Hehe iya teh. Sukses ya sama UNnya. Semoga lancar."

Tetehnya: "Aamiin.. iya makasih."

Aku: "Ngg.. rencananya mau dilanjut ke mana, teh?"

Tetehnya: "Insyaallah ke IPB."

Aku: "Oh.. semangat ya teh, semoga segala sesuatunya berjalan dengan baik."

Tetehnya: "Iya, semoga.. makasih. Nggak kerasa deh udah mau kuliah aja, rasanya baru kemarin masuk SMA dan sekarang, waktunya memulai lomba dan terjun ke masyarakat, demi awal kehidupan yang sesungguhnya "

Aku: "Iya bener banget, teh. Waktu emang nggak kerasa. Aku juga kayak baru kemarin daftar jadi siswa SMA, sekarang udah mau naik kelas aja."

Hanya tinggal beberapa langkah lagi aku sampai di rumahku. Bangunan rumah yang dahulu bercat orange segar, kini telah berubah menjadi putih usang dan rapuh, sebuah istana damai yang menjadi saksi hidup tumbuhnya pertambahan umurku. Aku menoleh menatap perempuan yang tengah berjuang menjadi pemimpin, kakak kelasku. Seraya berkata,

Aku: "Teh, aku duluan ya. Mampir dulu atuh ke rumah."

"Tetehnya: "Iya mangga, teteh mau langsung pulang aja, makasih. Mari."

          Sesungging senyuman lebar saling kami lemparkan sebagai tanda perpisahan kami. Aku berjalan gontai menuju ambang pintu. Setelah kuucap salam kepada Ibundaku, aku langsung terdiam dan merenungkan percakapan yang baru saja kami lontarkan. Aku berpikir, mencerna beberapa kalimat yang membuatku begitu tak kuasa untuk aku hadapi: nggak kerasa deh udah mau kuliah aja, rasanya baru kemarin masuk SMA dan sekarang, waktunya memulai lomba dan terjun ke masyarakat, demi awal kehidupan yang sesungguhnya. Dahulu, sewaktu aku masih kecil, aku tidak memiliki beban yang begitu berat seperti sekarang ini, kurasa. Aku menikmati masa kanak-kanakku. Kini, aku tumbuh dan dan tak bisa memutar ataupun memperlambat waktu. Kaki ini terus melangkah.. melangkah mengikuti suara hati. Pijakkan bumi yang memaksa untuk terus tumbuh. Aku pikir, semua ini akan mudah untuk aku lewati. Tapi, perlahan rahasia nyata terkoyak! Terungkap setiap jati diri yang hidup. Aku tidak bisa menghindar dan mengelak. 

Aku menghirup panjang udara sore dan menghempaskannya secara perlahan. Berulang-ulang kulakukan itu. Aku tak akan pernah tahu hal apa yang selanjutnya akan aku hadapi, namun aku harus siap, harus siap. Sampai pada akhirnya, aku menyadari bahwa semua ini bukan untuk ditakuti maupun dihindari, melainkan, ini semua harus aku hadapi. Harus aku hadapi sebaik yang aku bisa. Dan, kaki ini akan terus melangkah... segera berlabuh pada satu kekuatan bahagia, sukses. Semoga.
Sukabumi, 16 April 2013
Fitri

Sebuah Puisi


6.24 pm
AKU
Aku telah terbiasa dengan kebiasaan ini
Ketika mereka gembira, aku gembira
Ketika mereka sedih, aku sedih
Namun, ketika aku sedih, mereka gembira
Ketika aku gembira, mereka sedih
Gelisah, resah dan sepi merasuk jiwa
Hingga tak menentu hati ini merasa
Namun, kaki ini terus melangkah dan pergi entah kemana
Sampai pada akhirnya…
kaki ini berhenti pada setumpukkan hati yang mati
Aku tersentak!
Rahasia yang tidak aku ketahui di dalamnya, terkuak!
hingga, membuatnya kecewa melihatku
Ternyata…
yang selama ini gembira dan sedih bersama mereka itu bukanlah aku!
melainkan hanya diriku yang hadir tanpa jiwa!
Tapi kini…
Aku bersedia memanggil jiwaku kembali
Hingga pada akhirnya, aku mengetahui siapa aku yang sebenarnya

Sukabumi, 15 April 2013
Fitri Rahayu

Senin, 08 April 2013

Tahi Lalat Manis di Pelipis Kiri



Entah sejak kapan aku mulai mengetahui keberadaan makhluk manis itu,
mengetahui bahwa ada satu makhluk lain yang memang membuatku takjub memandangnya
Aku benci mengatakan ini, tapi... parasnya memang tak bisa lepas dari kegaduhan hatiku
Seringai tawanya menghiasi wajahnya yang putih itu
Sorot matanya seakan memiliki sinyal ajaib yang menginformasikan padanya bahwa tengah ada orang lain yang diam-diam menatapnya

Satu waktu, aku tak sengaja melihatnya berdiri dengan jaket jeans biru yang menutupi seragam putih, yang menyembunyikan rangkaian huruf namanya
Aku memandangnya sesaat, dari kejauhan keceriaannya membuatku tersenyum di dalam hati
Seketika makhluk manis itu melirikkan matanya ke berbagai arah termasuk menangkap sorot mataku yang memang tengah memandangnya diam-diam
Aku terkejut dan memaki diriku saat itu, buru-buru kupalingkan pandanganku menghindar dari tangkapan matanya

Sungguh, dia itu menyebalkan!
Bagaimana bisa pandanganku selalu tertangkap olehnya?

Dilain waktu, saat itu, aku merasa sangat senang menatapnya
Makhluk manis itu tengah bersanda gurau dengan beberapa orang temannya dan seorang guru di kantin sekolah
Aku memandangnya lebih dekat dari biasanya,
dan…
Tanpa kusadari, ternyata pemanis wajahnya terdapat di pelipis kirinya 
Dia manis dengan tahi lalat itu

Segaris senyuman kusunggingkan sesaat dan aku berkomat-kamit agar tidak terus menerus menyunggingkan senyum
Beberapa detik kemudian…
lagi! Dia menangkap sorotan mataku!
Bekas senyum lebarnya terarahkan padaku,
seperti biasa, aku hanya bisa menghindar dari pandangannya
dan… tak berapa lama, makhluk manis nan menyebalkan itu kembali memalingkan padangannya, kembali bergurau.

Biar kuluruskan, aku bukan mencintainya, namun aku hanya mengaguminya saja, tak lebih dari itu!

Namun, hanya tinggal beberapa minggu lagi, dia akan segera pergi melangkahkan kakinya menuju gapaian cita asa yang tengah dinanti-nantinya
Sekilas aku cemberut, karena.. itu artinya aku tidak bisa memandangnya lagi, seperti yang biasa aku lakukan
Tak bisa kulupa bagaimana aku sibuk dengan makian ketika pandanganku tertangkap olehnya
Tak bisa kulupa bagaimana caraku memandangnya
Tak bisa kulupa bagaimana pertama kali aku melihatnya berkeliaran di lingkunganku

Entah kemana kaki dan hatinya kelak akan berlabuh,
dengan berbekal ilmu dan pengalaman, dia tengah berjuang merajut hidup yang sesungguhnya,
bekerjakeras demi kesuksesan masa depan
Mencoba menjadi manusia seutuhnya yang dapat bertanggungjawab di dunia dan akhirat
Langkahan kakinya tengah berpijak dijalan yang selalu diridhai-Nya, semoga
Selamat bertarung dengan luasnya dunia
Selamat berlomba menuju kebenaran jalan akhirat
Selamat berjuang calon pemimpin
Selamat berjuang..
Selamat.


-F.A.T, si pelipis kiri bertahi lalat-





Kamis, 21 Maret 2013

Aku, Secarik Kertas.



Sukabumi, 21 Maret 2013
13.28 WIB

Fitri Rahayu,



Aku menggeram, melihat pantulan diriku di depan cermin. Aku berbicara. Tak jarang aku memaki diriku sendiri di depan cermin tersebut. Hari itu tanggal 20 februari, dimana aku berulangtahun, dimana umurku selalu berkurang setiap tahunnya. Aku mendesah, ingin rasanya aku kembali pada masa kecilku, masa kecil yang damai dan tak peduli seberapa kuatnya aku dapat memanfaatkan waktu. Kini, semuanya sudah terlambat.


"Umurmu sudah 16. Tanggung jawabmu semakin berat, Nona!" aku menggerutu, menatap tajam wajahku. "Aku gila! Kenapa pula aku berbicara pada cermin bodoh, yang memang tak bernyawa?" 
           
Aku semakin geram, aku mundur beberapa langkah dan berpaling menjauhi cermin jelek itu. Aku duduk kasar diranjang tempat tidur dengan menggenggam secarik kertas yang sedari tadi membuat tanganku berkeringat dibuatnya. Perlahan, kulirik dalam-dalam secarik kertas yang berisi sebuah tuntutan yang memaksaku untuk menyelesaikan misi itu. Ya, sebuah tugas yang memerintahku untuk berani. Samar-samar aku mendengar, entah melamun atau apa, yang jelas sebuah bisikkan masuk ke indra pendengaranku, "maju, Nak! Dunia ini tidak membutuhkan seorang pengecut pendiam, yang selalu menghindar dari masalah! Kau sudah 16, buat suatu karya yang membuat dirimu lebih dewasa, lebih berani dari pada kemarin dan hari ini!" Aku mendengus kesal mendengarnya, entah apa yang merasukiku, aku begitu emosi pada saat itu. "Raih aku lebih dekat dengan wajahmu! Bacalah aku, dan jangan sampai matamu lepas melewatkan satu kata pun! Aku memang secarik kertas, sebuah pena dari jari jemari manislah yang telah membuatku lebih berharga, telah kau ukir kata-kata indah dipermukaan kertasku. Kata-kata itu melekat dan menjadikanku sangat berarti. Aku sangat setia pada satu orang majikan. Kau tahu? Aku hanya setia pada majikan yang selalu ingin berpikir. Aku relakan satu nyawaku ini hanya untuk dirimu, majikanku. Asalkan dirimu memang benar-benar optimis menggapai impian yang kau tulis dipermukaan kertasku ini. Jangan kau lempar aku lagi ke tempat memuakkan itu, tempat sampah kotor! Kau harus yakin, kau pasti bisa, majikanku. Ayo.. bersemangatlah! Dan, aku mohon padamu majikan, selalu bertawakal lah hanya kepada Allah. Zat yang telah menciptakan skenario hidupmu! Dengarkan permadani lantai. Ya, berlutut dan berdoalah sebelum kau melangkah lebih jauh lagi! Dan.. oh ya, satu lagi, siapa bilang cermin itu benda tak bernyawa yang bodoh, yang tak berguna seperti yag kau katakan? Haha.. kau salah besar, Nak! Cermin yang kau bilang jelek itu adalah cerminan sikapmu! Jadi, siapa yang bodoh, jelek dan tak berguna?" Nada bisikkan itu semakin tinggi, membuatku ngeri. Aku merasa diriku ini adalah makhkuk yang bodoh! Bisikkan itu menunggu perkataan yang keluar dari celah-celah bibirku, aku berpikir keras dan mencoba mencari satu kata kepuasan yang membuatnya bangga. Namun, tetaplah aku memang salah! Yang bodoh, jelek dan tak berguna itu adalah... aku! Diriku sendiri! "Beruntunglah kau memiliki cermin yang dapat memberitahumu sikap dan langkah-langkah yang seharusnya kau luruskan! Tapi aku, kau lihat? Aku tidak bisa berkaca, melihat benar atau tidakknya kata-kata yang dilukiskan oleh pena.. aku hanya bisa terdiam menyaksikan goresan-goresan pena yang aku biarkan menggulung memenuhi isi kertasku. Aku sama halnya sepertimu, aku hanya ingin menjadi lebih baik dan lebih berharga tentunya. Oleh karena itu, wahai majikan... buatlah dengan serius daftar-daftar impian citamu, bertanggungjawablah atas goresan tulisan indahmu itu. Sehingga, dengan itu, aku bisa mengetahui bahwa aku selalu berada dijalan yang lurus. Lantas, bagaimana aku bercermin? Aku bercermin melalui dirimu, majikan. Ketika aku salah, kau segera menghapusnya dan menulis ulang kata-kata yang lebih indah, sehingga aku mengetahui kesalahan-kesalahanku. Aku menyerahkan satu nyawaku ini hanya demi istimewanya bait kata indahmu. Aku membiarkan permukaan kertasku cacat, tapi kau harus bertanggungjawab akan itu, majikan! Kau harus mewujudkan cita cinta masa depanmu yang tertulis dipermukaan kertasku ini. Nanti, ketika aku tersobek, ketika aku telah berubah wujud menjadi setumpukkan kertas tak berdaya, bahkan ketika aku telah hilang tersapu angin sekali pun, kau harus mengetahui bahwa, kata-kata indahmu itu masih melekat erat dipermukaan kertasku. Kau tak perlu mencari-cari kemana kertasku pergi, tak perlu bersusah payah menangisinya, yang harus kau lakukan hanyalah... hanyalah mewujudkan mimpi-mimpi besarmu yang pernah kau goreskan dipermukaan kertasku itu. Karena sesungguhnya, aku ini hanyalah alat penyimpan saja, tidak lebih dari itu! Semuanya bergantung padamu, cita asamu ada dibenakmu, tempat abadi yang tidak akan pernah cacat. Bekerja keras dan berdoalah, majikan! Dengan itu, aku menjadi secarik kertas yang berguna. Dan ingat, resapilah sikap-sikapmu sebelum bertindak, biarkan cermin itu menilai dirimu, karena itu memang benar adanya. Pantulan dirimu. Bukalah lipatan-lipatan usang diriku dan bacalah dalam-dalam! Dengarkan aku, aku mohon... wujudkan asa citamu demi masa depan."

Aku menoleh menatap lemas secarik kertas berhargaku, aku baca dan pahami setiap kata per katanya. Memang benar! Tepat sekali apa yang baru saja dikatakan oleh bisikkan yang mengusikku itu. Aku berdiri dan melangkah perlahan menuju cermin. Aku terdiam mencoba menatap lekat-lekat bayanganku dicermin. Beberapa saat kemudian, aku teringat akan suatu makian damai yang sampai saat ini masih merasuki relung jiwaku. 

Buku ajaib itu, memberitahuku arti apa dari suatu mimpi yang selalu menggentayangi setiap pemikir demi kesuksesan masa depannya. Buku itu berkutik, "Setiap saat kau berangan-angan akan berdirinya toko besarmu yang memiliki cabang dimana-mana, tapi setiap pagi pula kau sibuk pergi ke supermarket dan membeli semua kebutuhan panganmu. Pikirkanlah bagaimana itu bisa terjadi! Ketika kau dengan gesit pergi membeli sesuatu ke supermarket, pikirkanlah bagaimana seseorang telah menghitung banyaknya jumlah uang di belakang meja kasir, setiap paginya."

"Aku paham." aku menganggukan pelan kepalaku dan tanpa sadar mataku sembab karena air yang terus menerus mengalir dari balik kelopak mataku. Bisikkan itu datang mengusikku lagi, seolah tahu apa yang tengah aku pikirkan, dan bisikkan itu berkata, "ya, itu tepat sekali! Pada dasarnya, mimpi itu tidak akan terwujud kecuali kau berusaha dan memulainya dengan segera. Akan tetpi, jika suatu mimpi tidak dibarengi dengan kerja keras, mustahil akan terjadi. Majikan, kau boleh bermimpi setinggi langit, tapi jangan lupa daratan..." 

". . . bila aku terus berangan-angan, kapan aku akan berhasil? Yang ada, aku tertinggal jauh dengan mereka, orang yang selalu berpikir dan bekerja keras." ucapku yang memotong perkataan bisikkan itu.  

"Dan. . . jangan lupa untuk berlutut dan berdoa kepada Sang Pencipta." sambung bisikkan secarik kertas itu.

"Allah, S.W.T." ucapku mantap.

Kini, aku paham apa yang harus aku lakukan sekarang. Sudah jelas. Semoga ini dapat terwujud. Aamiin :) Ayah, Ibu.. semoga kalian tidak menyesal mempunyai anak seperti aku..






Selasa, 18 September 2012

Entah

Malam itu. Ku mendongakkan kepalaku, melihat bulan bulat seutuhnya. "Seram" gumamku. Yeah aku pikir itu memang seram, cahaya bulan yang menerangi awan malam disekelilingnya. Ha, aneh bukan? Namun, entah mengapa bila malam itu hanya dihadiri beribu- ribu bintang tanpa ditemani sang bulan, aku merasa . . . nyaman. Sungguh indah.

Aku genggam ponsel miniku, lagu Down To Earth menyeringai syahdu ditelingaku. 

Kamis, 16 Agustus 2012

I Proud To Be A MOSLEM

"Bisakah aku menjadi wanita yang solehah?" 
"Menutup aurat sebagaimana mestinya diperintahkan dalam Al- Qur'an?" 
"Berjilbab. Mengais Al- Qur'an. Beristiqamah. Taat. Sopan. Berakhlak. Akankah aku meraihnya?"
"Akankah Allah mau memaafkanku?"



Pertanyaan- pertanyaan itu seakan membuatku paling lemah diantara hamba Allah lainnya. Aku yang belum mengetahui apa- apa tentang pentingnya itu semua, yang masih menyepelekan Agama, aku yang selalu mengabaikan perintah- perintah Allah, betapa bodohnya aku, bukan? Islam adalah Agamaku, tapi sifatku? aku selalu membohongi diri sendiri, berbohong, malas, hal bodoh lainnya. Dunia, dunia membutakan setiap manusia didalamnya.

Astagfirullahaladzim, astagfirullahaladzim, astagfirullahaladzim,


Kini saat aku sudah berusia 15 tahun, aku baru menyadari itu semua. Maka Ya ALLAH, ampunilah aku, terimalah taubatanku Ya ALLAH. . . 

Aku berniat untuk berubah, aku ingin menjadi gadis Islam seutuhnya. Mudah-mudahan. aminnn
Sesungguhnya aku rindu utusan-Mu Ya Allah, Nabi Muhammad S.A.W.


Apalagi sekarang bulan suci Ramandhan, dan sekitar dua hari lagi, akan menghadapi Iedul Fitri .  

Betapa bahagianya setiap umat Muslim, saling bermaafan dan silaturahim.
Subhanallah. Alhamdulliah, aku masih bisa berkumpul bersama keluargaku.





Amanat : Bertaubatlah selagi masih berumur, sadarilah dosa yang telah kita perbuat selama ini. 
Beristiqomahlah yang telah mematuhi setiap perintah Allah dan Rasul-Nya.                                                                                           




                                                                                                                        Kamis, 16/08 2012, 17:39
                                                                                                                        Surat pengaduanku

Rabu, 16 Mei 2012

I think We're not Bestfriend anymoe. But, I want We Always Together (DARFSICAN)

Manusia adalah makhluk sosial yang artinya manusia membutuhkan orang lain, membutuhkan satu sama lain. Meskipun dirinya dikelilingi oleh banyak harta, namun tetap saja manusia tidak akan hidup tanpa seorang teman, sahabat maupun keluarga. Akan tetapi, ada satu hal yang manusia tidak inginkan yaitu seorang musuh. Namun, tanpa adanya musuh sejarah hidup ini tidak akan berwarna. Bagaikan "Sayur tanpa garam. Spongebob tanpa Patrick. Mr. Krab tanpa uang". Mengapa? karena permusuhan diawali oleh sebuah kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja. Tanpa kesalahan, kita tidak dapat belajar dari sebuah kesalahan yang telah diperbuat. Sebuah permusuhan juga mengajarkan kita untuk saling bermaafan.

        Berbicara tentang itu aku jadi teringat tentang keempat sahabatku. Ceritanya, disekolahku saat aku menduduki bangku kelas VIII, aku telah menemukan sahabat untuk diriku, diantaranya; Ai, Chaca, Dila dan Sari. Mereka keempat sahabatku yang sangat aku cintai. Kami saling berbagi cerita, berbagi pendapat dan banyak hal lainnya. Sampai- sampai kami membuat sebuah Geng, aku fikir bukan sebuah Geng. Bukan! Lebih tepatnya sebuah nama untuk kumpulan kami saja. Namanya 'Darfsican'. Setiap harinya tali persahabatan kami semakin hari, semakin erat, sangat erat. Kemana- mana kami selau bersama, mau itu belajar berkelompok, bermain bersama, sesekali kami juga pernah melakukan hal jahil bersama. Hahahah.. Sejujurnya, aku tidak ingin kehilangan mereka semua. Aku ingin selalu berada disamping mereka seutuhnya. Hati kami sudah melekat kedalam suatu ikatan persahabatan Darfsican.

        Namun takdir berkata lain. Semenjak kenaikkan kelas, itu berarti kami menduduki bangku kelas IX. Darfsican menjadi terbelah. Kau tahu mengapa? Empat ruangan kelas yang mengubah semuanya, yang terbagi kedalam kelas IXa, IXb, IXc, dan IXd. Aku memasuki kelas IXa bersama Chaca, Dila dan Sari memasuki kelas IXc, sedangkan Ai dia memasuki kelas IXd. Kami merasa sedih dan kecewa akan pembagian kelas itu, namun mau bagaimana lagi? pihak sekolah telah mengatur semuanya.

       Disinilah perubahan sikappun dimulai. Awalnya kami semua masih baik saja, akan tetapi, setelah beberapa saat kemudian satu persatu diantara kami mulai merenggang. Entah apa yang telah telah membuat  kami sedemikian malangnya. Persahabatan yang telah kami jalin cukup lama, terlupa begitu saja. Dan sekarang sikap kami seolah- olah menjadi dingin. Sesekali kami sering melemparkan senyum dan sapaan. Namun itu berbeda dengan yang dulu. Kemana suasana yang selalu dapat mengalahkan dunia? semuanya sirna. Mungkin gara- gara kami mempunyai teman baru didalam kelas kami masing- masing dan membutakan semuanya. Namun bukan ini yang aku harapkan. Aku menjadi canggung kepada mereka, begitupun sebaliknya, mereka merasakan hal yang sama.

       Pernah kami mencoba untuk seperti dulu lagi, namaun itu sangat sulit, rasa ego kami tinggi, kami tidak dapat mengerti satu sama lain. Hingga detik ini  Darfsican sudah lama tak kudengar. Semu, yang ada. Namun tali pertemanan ksmi masih selalu ada, dan tidak akan putus, yang aku sedihkan kami sudah tidak dapat menjalin hubungan seperti dulu kala, layaknya 'anak kuccing dengan induknya' Aku menjadi teringat tentang pepatah yang berkata ;

"Jangan terlalu dekat dengan seseorang, Nantinya seseorang akan menjadi jauh dengan kita"

Ternyata pepatah itu mengatakan yang sejujurnya.
Aku mengalaminya, aku merasakannya. Terbukti. Namun aku tidak mengharapkan seperti ini.                      I MISS YOU DARFSICAN REALLY MISS YOU ALL :* :)









Kamis, 26 April 2012

Air mata berharga di hari Jum'at

"Ya Allah, Ujian Nasional sudah didepan mata, hanya tinggal menghitung hari. Bantulah kami, agar kami diberi kelancaran, diberi kemudahan untuk menghadapinya Ya Rabb.. Kami ingin, kami semua lulus dalam Ujian Nasional ini dengan hasil yang memuaskan. Jangan biarkan kami semua terjerumus kedalam jebakan syaitan yaitu mencontek, berbuat tidak jujur dicelah - celah Ujian sedang berlangsung Ya Allah.. Ya Allah dengarlah seruan kami kabulkanlah permintaan kami. amminn..."                       

                     Begitu suara lantunan panjatan do'a yang terucap dari celah - celah bibir Ustadz. Baharsyah dan diikuti oleh kami semua siswa/siswi kelas IX yang akan berjuang menghadapi UN saat istigosah sedang berlangsung ditengah lapang sekolah kami.

                    Mendengar panjatan do'a itu, kami pun tak kuasa membendung tangisan yang sedari tadi menggedor - gedor dibalik kelopak mata kami, sehingga air mata kami pun berlinangan membasahi pipi kami. Tangisan pun semakin deras saat Ustadz Baharsyah menginatkan kami kepada kedua orangtua tercinta kami dirumah, yang mana hatinya terluka atas kami anaknya. Kami sadar akan perbuatan kami, dan mencoba untuk tidak melakukannya lagi.

                    Pencerahan pun diakhiri dengan amanat dan pesan - pesan dari Ustadz Baharsyah agar kami menjadi orang yang lebih baik, dapat menjungjung kejujuran juga membuat kedua orangtua kami banga. 
Setelah selesai, kami pun saling bermaafan kepada sesama, juga kepada Guru - Guru yang telah begitu sabar mendidik kami semua. 

                    Suasana haru pun kembali menggebu. Aku dan teman putri lainnya saling berpelukan dan menangis saat itu. Begitupun dengan anak - anak putranya, aku melihat mereka melakukan hal yang sama. Tetapi tangisan mereka bukanlah tangisan karena cengeng maupun pecundang, akan tetapi justru tangisan merka itu tangisan ke gagahan. Aku tak percaya, hati mereka luluh akan hal ini, aku tersenyum melihatnya.

Hanya ada satu kali lagi kesempatan untuk lulus yaitu Ujian Nasional, semoga Allah S.W.T mengabulkan permintaan kami. Begitupun dengan kenangan disekolah ini, tinggal beberapa saat lagi kami terpisah karena cita - cita. Rasanya aku belum sanggup meninggakan dan ditinggalkan oleh mereka, teman - temanku, dan sahabatku. Tapi aku harus ikhlas melakukan hal ini, aku yakin Allah. S.W.T telah merencanakan segala sesuatunya dengan sangat baik.

Siapa aku dimasa mendatang?

                    15 tahun yang lalu aku hadir dimuka bumi ini. Di dunia yang dipenuhi oleh berbagai macam bentuk pilihan, semua bentuk pilihan. Begitu banyak pilihan yang harus aku pilih dengan tepat. Malangnya diumur yang masih dibilang sangat belia ini aku tidak dapat melakukan apa - apa. Aku tidak dapat membahagiakan kedua orangtuaku, minimal dengan hasil belajarku. Aku rasa, aku masih seperti anak kecil yang belum bisa mandi sendiri. Aku takut, aku takut, sangat takut, aku tidak dapat membahagiakan kedua orangtuaku.
                   
                  Aku melihat Sean, yeah Kamasean (Kamasean apa gitu aku lupa) peserta Indonesian Idol itu, dia begitu sangat berbakat, diumurnya yang hanya berbeda 1 tahun lebih tua dariku telah membuat kedua orangtuanya tersenyum bangga. Begitupun dengan Justin Drew Bieber idolaku, dia adalah sesosok penyanyii yang sangat profesional, namanya dikenal diseluruh berbagai belahan dunia. Kariernya sudah didepan mata, dia telah mengubah 180 derajat hidupnya dan jelas telah membuat Ibunda tercintanya sangat bahagia.           Banyak anak - anak lain bahkan usianya lebih muda dariku telah berhasil, telah sukses meraih masa depan cerah mereka dengan sangat baik.
                 
                Bagaimana denganku? Apa yang dapat aku perbuat kepada mereka, kedua orangtuaku? Yang ada aku telah membuat mereka kecewa, malu, dan sedih atas segala tingkah laku juga sifatku bahkan dapat disebut kurang ajar.. Sungguh aku sangat bingung, masa depan ada ditanganku .. !! Menjadi apa aku kelak besar nanti? Tanda tanya besar yang belum juga terlihat jawabnya olehku.


Siapapun aku dimasa depan nanti, semoga kedua orangtuaku bangga padaku, dan ALLAH. S.W.T dapat tersenyum melihat hambanya berhasil dan sukses meraih cita - cita yang telah direncanakan-Nya. amminn....