Jumat, 12 April 2013

You Raise Me Up


By, Josh Groban

When I am down and, oh my soul, so weary
When troubles come and my heart burdened be
Then, I am still and wait here in the silence
Until you come and sit awhile with me
You raise me up, so I can stand on mountains
You raise me up, to walk on stormy seas
I am strong, when I am on your shoulders
You raise me up... To more than I can be
You raise me up, so I can stand on mountains
You raise me up, to walk on stormy seas
I am strong, when I am on your shoulders
You raise me up... To more than I can be

[There is no life - no life without its hunger
Each restless heart beats so imperfectly
But when you come and I am filled with wonder
Sometimes, I think I glimpse eternity.]

Senin, 08 April 2013

Tahi Lalat Manis di Pelipis Kiri



Entah sejak kapan aku mulai mengetahui keberadaan makhluk manis itu,
mengetahui bahwa ada satu makhluk lain yang memang membuatku takjub memandangnya
Aku benci mengatakan ini, tapi... parasnya memang tak bisa lepas dari kegaduhan hatiku
Seringai tawanya menghiasi wajahnya yang putih itu
Sorot matanya seakan memiliki sinyal ajaib yang menginformasikan padanya bahwa tengah ada orang lain yang diam-diam menatapnya

Satu waktu, aku tak sengaja melihatnya berdiri dengan jaket jeans biru yang menutupi seragam putih, yang menyembunyikan rangkaian huruf namanya
Aku memandangnya sesaat, dari kejauhan keceriaannya membuatku tersenyum di dalam hati
Seketika makhluk manis itu melirikkan matanya ke berbagai arah termasuk menangkap sorot mataku yang memang tengah memandangnya diam-diam
Aku terkejut dan memaki diriku saat itu, buru-buru kupalingkan pandanganku menghindar dari tangkapan matanya

Sungguh, dia itu menyebalkan!
Bagaimana bisa pandanganku selalu tertangkap olehnya?

Dilain waktu, saat itu, aku merasa sangat senang menatapnya
Makhluk manis itu tengah bersanda gurau dengan beberapa orang temannya dan seorang guru di kantin sekolah
Aku memandangnya lebih dekat dari biasanya,
dan…
Tanpa kusadari, ternyata pemanis wajahnya terdapat di pelipis kirinya 
Dia manis dengan tahi lalat itu

Segaris senyuman kusunggingkan sesaat dan aku berkomat-kamit agar tidak terus menerus menyunggingkan senyum
Beberapa detik kemudian…
lagi! Dia menangkap sorotan mataku!
Bekas senyum lebarnya terarahkan padaku,
seperti biasa, aku hanya bisa menghindar dari pandangannya
dan… tak berapa lama, makhluk manis nan menyebalkan itu kembali memalingkan padangannya, kembali bergurau.

Biar kuluruskan, aku bukan mencintainya, namun aku hanya mengaguminya saja, tak lebih dari itu!

Namun, hanya tinggal beberapa minggu lagi, dia akan segera pergi melangkahkan kakinya menuju gapaian cita asa yang tengah dinanti-nantinya
Sekilas aku cemberut, karena.. itu artinya aku tidak bisa memandangnya lagi, seperti yang biasa aku lakukan
Tak bisa kulupa bagaimana aku sibuk dengan makian ketika pandanganku tertangkap olehnya
Tak bisa kulupa bagaimana caraku memandangnya
Tak bisa kulupa bagaimana pertama kali aku melihatnya berkeliaran di lingkunganku

Entah kemana kaki dan hatinya kelak akan berlabuh,
dengan berbekal ilmu dan pengalaman, dia tengah berjuang merajut hidup yang sesungguhnya,
bekerjakeras demi kesuksesan masa depan
Mencoba menjadi manusia seutuhnya yang dapat bertanggungjawab di dunia dan akhirat
Langkahan kakinya tengah berpijak dijalan yang selalu diridhai-Nya, semoga
Selamat bertarung dengan luasnya dunia
Selamat berlomba menuju kebenaran jalan akhirat
Selamat berjuang calon pemimpin
Selamat berjuang..
Selamat.


-F.A.T, si pelipis kiri bertahi lalat-





Kamis, 21 Maret 2013

Aku, Secarik Kertas.



Sukabumi, 21 Maret 2013
13.28 WIB

Fitri Rahayu,



Aku menggeram, melihat pantulan diriku di depan cermin. Aku berbicara. Tak jarang aku memaki diriku sendiri di depan cermin tersebut. Hari itu tanggal 20 februari, dimana aku berulangtahun, dimana umurku selalu berkurang setiap tahunnya. Aku mendesah, ingin rasanya aku kembali pada masa kecilku, masa kecil yang damai dan tak peduli seberapa kuatnya aku dapat memanfaatkan waktu. Kini, semuanya sudah terlambat.


"Umurmu sudah 16. Tanggung jawabmu semakin berat, Nona!" aku menggerutu, menatap tajam wajahku. "Aku gila! Kenapa pula aku berbicara pada cermin bodoh, yang memang tak bernyawa?" 
           
Aku semakin geram, aku mundur beberapa langkah dan berpaling menjauhi cermin jelek itu. Aku duduk kasar diranjang tempat tidur dengan menggenggam secarik kertas yang sedari tadi membuat tanganku berkeringat dibuatnya. Perlahan, kulirik dalam-dalam secarik kertas yang berisi sebuah tuntutan yang memaksaku untuk menyelesaikan misi itu. Ya, sebuah tugas yang memerintahku untuk berani. Samar-samar aku mendengar, entah melamun atau apa, yang jelas sebuah bisikkan masuk ke indra pendengaranku, "maju, Nak! Dunia ini tidak membutuhkan seorang pengecut pendiam, yang selalu menghindar dari masalah! Kau sudah 16, buat suatu karya yang membuat dirimu lebih dewasa, lebih berani dari pada kemarin dan hari ini!" Aku mendengus kesal mendengarnya, entah apa yang merasukiku, aku begitu emosi pada saat itu. "Raih aku lebih dekat dengan wajahmu! Bacalah aku, dan jangan sampai matamu lepas melewatkan satu kata pun! Aku memang secarik kertas, sebuah pena dari jari jemari manislah yang telah membuatku lebih berharga, telah kau ukir kata-kata indah dipermukaan kertasku. Kata-kata itu melekat dan menjadikanku sangat berarti. Aku sangat setia pada satu orang majikan. Kau tahu? Aku hanya setia pada majikan yang selalu ingin berpikir. Aku relakan satu nyawaku ini hanya untuk dirimu, majikanku. Asalkan dirimu memang benar-benar optimis menggapai impian yang kau tulis dipermukaan kertasku ini. Jangan kau lempar aku lagi ke tempat memuakkan itu, tempat sampah kotor! Kau harus yakin, kau pasti bisa, majikanku. Ayo.. bersemangatlah! Dan, aku mohon padamu majikan, selalu bertawakal lah hanya kepada Allah. Zat yang telah menciptakan skenario hidupmu! Dengarkan permadani lantai. Ya, berlutut dan berdoalah sebelum kau melangkah lebih jauh lagi! Dan.. oh ya, satu lagi, siapa bilang cermin itu benda tak bernyawa yang bodoh, yang tak berguna seperti yag kau katakan? Haha.. kau salah besar, Nak! Cermin yang kau bilang jelek itu adalah cerminan sikapmu! Jadi, siapa yang bodoh, jelek dan tak berguna?" Nada bisikkan itu semakin tinggi, membuatku ngeri. Aku merasa diriku ini adalah makhkuk yang bodoh! Bisikkan itu menunggu perkataan yang keluar dari celah-celah bibirku, aku berpikir keras dan mencoba mencari satu kata kepuasan yang membuatnya bangga. Namun, tetaplah aku memang salah! Yang bodoh, jelek dan tak berguna itu adalah... aku! Diriku sendiri! "Beruntunglah kau memiliki cermin yang dapat memberitahumu sikap dan langkah-langkah yang seharusnya kau luruskan! Tapi aku, kau lihat? Aku tidak bisa berkaca, melihat benar atau tidakknya kata-kata yang dilukiskan oleh pena.. aku hanya bisa terdiam menyaksikan goresan-goresan pena yang aku biarkan menggulung memenuhi isi kertasku. Aku sama halnya sepertimu, aku hanya ingin menjadi lebih baik dan lebih berharga tentunya. Oleh karena itu, wahai majikan... buatlah dengan serius daftar-daftar impian citamu, bertanggungjawablah atas goresan tulisan indahmu itu. Sehingga, dengan itu, aku bisa mengetahui bahwa aku selalu berada dijalan yang lurus. Lantas, bagaimana aku bercermin? Aku bercermin melalui dirimu, majikan. Ketika aku salah, kau segera menghapusnya dan menulis ulang kata-kata yang lebih indah, sehingga aku mengetahui kesalahan-kesalahanku. Aku menyerahkan satu nyawaku ini hanya demi istimewanya bait kata indahmu. Aku membiarkan permukaan kertasku cacat, tapi kau harus bertanggungjawab akan itu, majikan! Kau harus mewujudkan cita cinta masa depanmu yang tertulis dipermukaan kertasku ini. Nanti, ketika aku tersobek, ketika aku telah berubah wujud menjadi setumpukkan kertas tak berdaya, bahkan ketika aku telah hilang tersapu angin sekali pun, kau harus mengetahui bahwa, kata-kata indahmu itu masih melekat erat dipermukaan kertasku. Kau tak perlu mencari-cari kemana kertasku pergi, tak perlu bersusah payah menangisinya, yang harus kau lakukan hanyalah... hanyalah mewujudkan mimpi-mimpi besarmu yang pernah kau goreskan dipermukaan kertasku itu. Karena sesungguhnya, aku ini hanyalah alat penyimpan saja, tidak lebih dari itu! Semuanya bergantung padamu, cita asamu ada dibenakmu, tempat abadi yang tidak akan pernah cacat. Bekerja keras dan berdoalah, majikan! Dengan itu, aku menjadi secarik kertas yang berguna. Dan ingat, resapilah sikap-sikapmu sebelum bertindak, biarkan cermin itu menilai dirimu, karena itu memang benar adanya. Pantulan dirimu. Bukalah lipatan-lipatan usang diriku dan bacalah dalam-dalam! Dengarkan aku, aku mohon... wujudkan asa citamu demi masa depan."

Aku menoleh menatap lemas secarik kertas berhargaku, aku baca dan pahami setiap kata per katanya. Memang benar! Tepat sekali apa yang baru saja dikatakan oleh bisikkan yang mengusikku itu. Aku berdiri dan melangkah perlahan menuju cermin. Aku terdiam mencoba menatap lekat-lekat bayanganku dicermin. Beberapa saat kemudian, aku teringat akan suatu makian damai yang sampai saat ini masih merasuki relung jiwaku. 

Buku ajaib itu, memberitahuku arti apa dari suatu mimpi yang selalu menggentayangi setiap pemikir demi kesuksesan masa depannya. Buku itu berkutik, "Setiap saat kau berangan-angan akan berdirinya toko besarmu yang memiliki cabang dimana-mana, tapi setiap pagi pula kau sibuk pergi ke supermarket dan membeli semua kebutuhan panganmu. Pikirkanlah bagaimana itu bisa terjadi! Ketika kau dengan gesit pergi membeli sesuatu ke supermarket, pikirkanlah bagaimana seseorang telah menghitung banyaknya jumlah uang di belakang meja kasir, setiap paginya."

"Aku paham." aku menganggukan pelan kepalaku dan tanpa sadar mataku sembab karena air yang terus menerus mengalir dari balik kelopak mataku. Bisikkan itu datang mengusikku lagi, seolah tahu apa yang tengah aku pikirkan, dan bisikkan itu berkata, "ya, itu tepat sekali! Pada dasarnya, mimpi itu tidak akan terwujud kecuali kau berusaha dan memulainya dengan segera. Akan tetpi, jika suatu mimpi tidak dibarengi dengan kerja keras, mustahil akan terjadi. Majikan, kau boleh bermimpi setinggi langit, tapi jangan lupa daratan..." 

". . . bila aku terus berangan-angan, kapan aku akan berhasil? Yang ada, aku tertinggal jauh dengan mereka, orang yang selalu berpikir dan bekerja keras." ucapku yang memotong perkataan bisikkan itu.  

"Dan. . . jangan lupa untuk berlutut dan berdoa kepada Sang Pencipta." sambung bisikkan secarik kertas itu.

"Allah, S.W.T." ucapku mantap.

Kini, aku paham apa yang harus aku lakukan sekarang. Sudah jelas. Semoga ini dapat terwujud. Aamiin :) Ayah, Ibu.. semoga kalian tidak menyesal mempunyai anak seperti aku..






Sabtu, 16 Maret 2013


♔Justinbieber. Feel it. Believe it. Dream it. Be it.

                                                                                                                     


When he smile at you ^_^
                                                          
"I Love you too! Stayin' kidrauhl :*"



"Whenever you knock we down, i'll...

He is soooo cute!

Teach me! :D


"Forever Belieber"

Kamis, 03 Januari 2013

Keunikan Matematika

Sumber: Mutiara Air Mata Muslimah

1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321

1 x 9 + 2 = 11
12 x 9 + 3 = 111
123 x 9 + 4 = 1111
1234 x 9 + 5 = 11111
12345 x 9 + 6 = 111111
123456 x 9 + 7 = 1111111
1234567 x 9 + 8 = 11111111
12345678 x 9 + 9 = 111111111
123456789 x 9 + 10 = 1111111111

9 x 9 + 7 = 88
98 x 9 + 6 = 888
987 x 9 + 5 = 8888
9876 x 9 + 4 = 88888
98765 x 9 + 3 = 888888
987654x 9 + 2 = 8888888
9876543 x 9 + 1 = 88888888
98765432 x 9 + 0 = 888888888

Hebatkan?

Coba lihat simetri ini :
1 x 1 = 1
11 x 11 = 121
111 x 111 = 12321
1111 x 1111 = 1234321
11111 x 11111 = 123454321
111111 x 111111 = 12345654321
1111111 x 1111111 = 1234567654321
11111111 x 11111111 = 123456787654321
111111111 x 111111111 =
12345678987654321

kurang hebat,,,,?????

Sekarang lihat ini
Jika 101% dilihat dari sudut pandangan
Matematika, apakah ia sama dengan 100%,
atau
ia LEBIH dari 100%?
Kita selalu mendengar orang berkata dia bisa
memberi lebih dari 100%, atau kita selalu
dalam
situasi dimana seseorang ingin kita memberi
100% sepenuhnya.
Bagaimana bila ingin mencapai 101%?
Apakah nilai 100% dalam hidup?
Mungkin sedikit formula matematika dibawah
ini
dapat membantu memberi
jawabannya.

Jika ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ

Disamakan sebagai 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
12 13
14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26

Maka, kata KERJA KERAS bernilai :
11 + 5 + 18 + 10 + 1 + 11 + 5 + 18 + 19 + 1
=
99%

H-A-R-D-W-O-R-K
8 + 1 + 18 + 4 + 23 + !5 + 18 + 11 = 99%

K-N-O-W-L-E-D-G-E
11 + 14 + 15 + 23 + 12 + 5 + 4 + 7 + 5 = 96%

A-T-T-I-T-U-D-E
1 + 20 + 20 + 9 + 20 + 21 + 4 + 5 = 100%

Sikap diri atau ATTITUDE adalah perkara
utama
untuk mencapai 100% dalam hidup kita. Jika
kita
kerja keras sekalipun tapi tidak ada ATTITUDE
yang positif didalam diri, kita masih belum
mencapai 100%.

Tapi, LOVE OF GOD
12 + 15 + 22 + 5 + 15 + 6 + 7 + 15 + 4 =
101%

atau
, SAYANG ALLAH
19 + 1 + 25 + 1 + 14 + 7 + 1 + 12 + 12 + 1 +
8 =
101%

ALLAHU AKBAR ...

Rabu, 02 Januari 2013

Nikahi Aku, Bukan Pacari Aku


Bismillahirahmannirrahim,

Cowok: “Aku mencintaimu, sungguh-sungguh jatuh cinta kepadamu.”
Cewek: “Kalau kau memang mencintaiku, kenapa kau mengajakku pacaran?”
Cowok: “Hah, Bukankah karena aku mencintaimu maka karena itulah aku ingin menjadikanmu pacarku?”
Cewek: “Aku tahu. Aku bukan orang bodoh. Jika kau mencintaiku, kenapa menginginkanku melakukan hal yang tak berguna untuk hidupku?”

Cowok:
“Hal yang tidak berguna, bukankah pacaran merupakan satu jalan untuk mencapai kesaling-mengenalan antara aku dan kau?”
Cewek: “Aku tidak sependapat denganmu. Maafkan aku.”
Cowok: “Tidak apa-apa.”
Cewek: “Apa kau masih ingin menjadikanku pacarmu?”
Cowok: “Iya. aku tidak akan menyerah.”
Cewek: “Kalau begitu, sampai kapanpun aku tidak akan mau menerimamu. Karena kau hanya ingin menjadikanku lampiasan nafsumu.”

Cowok: “Tapi aku mencintaimu.”
Cewek: “Tidak, aku tidak percaya kau mencintaiku. Kita sudah dewasa, sudah bisa membedakan mana yang baik dan tidak. Aku tidak ingin menghabiskan sisa hidupku dengan sia-sia. Hidup ini serius dan pasti akan ada pertanggungjawabannya.”

Cowok: “Akan aku buktikan kepadamu. Aku serius.”
Cewek: “Akan kau buktikan dengan apa. Dengan menungguku sampai aku mau? Ah basi. Banyak orang melakukannya begitu, dan banyak pula perempuan yang berhasil dibodohi. Sayangnya aku tidak sama dengan kebanyakan perempuan lain. Kau tidak akan berhasil.”

Cowok: “Lalu dengan apa aku membuktikannya?”
Cewek: “Serius kau ingin membuktikannya?”
Cowok: “Iya.”
Cewek: “Datanglah kepada kedua orangtuaku dan minta ijinlah kepada mereka untuk menikahiku. Bukan memacariku. Sanggup?”
Cowok: “Baiklah. Aku sanggup.”

Sumber : Islamic Motivation